Bumi Akan Gelap Pada Tanggal 23-25 Desember 2012 ? 100% HOAX!

Heboh nya pemberitaan yang beredar mengenai bumi akan gelap selama tiga hari yang “katanya” di publikasikan oleh NASA membuat banyak orang heboh dan membahas akan terjadi nya kegelapan total di bumi. Tak hanya itu saja, berbagai media informasi baik blog, website maupun jejaring sosial mendadak serentak merilis pemberitaan ini seolah menjadi sebuah gossip yang layak dikonsumsi. Benarkah pemberitaan itu ataukah hanya sebuah kebohongan belaka (Hoax)?
Kebohongan publik atau hoax dibidang astronomi sebenarnya sudah marak terjadi mulai dari planet nibiru, kiamat 2012, badai matahari yang membunuh manusia hingga yang terakhir ini bumi akan gelap dan adanya istilah baru yaitu kesejajaran alam semesta.
Mengacu pada artikel yang marak dipublikasikan disebutkan bahwa “Nasa Predicts total blackout on 23-25 december 2012 during alignment of universe” jika kita terjemahkan “Nasa memprediksikan kegelapan total pada 23-25 desember 2012 selama kesejajaran alam semesta”. NASA sebagai Lembaga Luar Angkasa dan Aeronautika amerika dituduh sebagai biang dari sumber pemberitaan ini. Tidak hanya itu saja disebutkan pula bahwa bumi dan matahari akan sejajar dalam satu garis lurus. Bagi masyarakat awam, mendengar pemberitaan seperti ini membuat bulu kuduk langsung merinding, berfikir yang aneh-aneh dan ujung2x nya berfikir bahwa bumi kita akan kiamat. Betulkah pemberitaan itu? Mari kita bahas bersama
Sejajar nya planet ditatasurya
Dalam pemberitaan itu dikatakan bahwa gelap nya bumi selama tiga hari tak lain sebagai akibat dari sejajar nya matahari, merkurius, venus dan bumi. Betulkah? Mari kita buka peta bintang kita yaitu SkyViewCafe (klik disini) dan kita cek orbit apakah benar pada tanggal 23-25 planet merkurius dan venus sejajar dengan bumi kita.

Dari hasil simulasi yang kita dapat, orbit planet merkurius dan venus memang sejajar tapi bumi dan mars tidak sejajar. Jadi dari sini saja kita sudah dapat menyangkal bahwa pemberitaan ini adalah omong kosong belaka atau HOAX.
Bumi akan gelap akibat tertutup merkurius dan venus
Sebuah dogma yang selama ini beredar di pikiran masyarakat awam adalah planet-planet di tatasurya memiliki jarak yang sangat dekat dan dalam media gambar maupun animasi tidak diberikan sebuah keterangan seberapa jauh jarak antara bumi dan venus. Sehingga dalam sebuah gambar maupun animasi saja seolah venus dan bumi sangat dekat dan potensi sekali jika venus melintas didepan bumi akan terjadi gelap yang gelap nya melebihi gerhana matahari. Lihat gambar ini.

Salahkah gambar itu?
Gambar diatas tidak lah salah melainkan kurang lengkap. Seharus nya semua media baik mulai dari poster hingga gambar dan animasi harus lah mencantumkan skala berapa jarak antar planet. Sekarang lihatlah gambar berikut dimana gambar ini diameter bumi bulan dan jarak bumi – bulan di buat semirip mungkin dengan asli nya(diskalakan)

Apa yang ada dipikiran anda?
Ternyata jarak bumi – bulan jauh ya… Memang. Jarak bumi bulan ditempuh oleh neil armstrong selama 4 hari perjalanan antariksa dan oleh cahaya (garis kuning) ditempuh hanya 1.26 detik.
Lantas seperti apakah jika planet venus menutup bumi kita? Apakah gelap?
Hal ini sebenarnya telah terjadi pada tanggal 6 juni 2012 yang lalu dimana selama kurang lebih 6 jam planet venus melintas di depan bumi kita dan hasil nya bumi tidak gelap bukan melainkan biasa-biasa saja. Bertepatan pada saat itu juga Tim Jogja Astro Club dan Kafe Astronomi juga mengadakan pengamatan bersama Observatorium CASA yang membuahkan hasil beberapa gambar salah satu nya sebagai berikut

Dalam foto diatas tampak bulatan matahari berwarna pink dan tampak pula bulatan kecil berwarna hitam. BUlatan matahari atau Cakram matahari tampak pink tak lain adalah akibat dari filter matahari yang kami gunakan. Dalam foto ini fotografer tidak mengganti warna dari hasil pengamatan pada saat itu. Tampak pula lingkaran hitam di pojok atas. Siapakah dia? Ya dialah planet venus yang sedang melintas di depan bumi. Diameter planet venus sekitar 0,949 kali bumi kita atau dengan kata lain diameter bumi dengan diameter venus hampir sama. Sebuah pertanyaan pun muncul, mengapa venus tampak kecil? Venus tampak kecil taklain adalah sebagai akibat dari jarak yang cukup jauh dari bumi kita yaitu sekitar 0,28 AU atau sekitar 41.887.403,88 Kilo meter atau jika jarak antara venus dan bumi diisi planet bumi maka butuh 3283 bumi untuk memenuhi dari bumi ke venus. Nah jauh kan. Makanya kecil.
Bagaimana Jika semua planet sejajar apa akibat nya?
Berdasarkan Simulasi SkyviewCafe hingga 1000 tahun kedepan tatasurya kita tak akan pernah sejajar. Hal ini dapat kita cek menggunakan fasilitas orbit pada simulasi skyviewcafe. Dari simulasi ini juga kita akan tahu bahwa bidang orbit dari setiap planet tidaklah datar seperti datar nya papan catur. Lihat orbit planet dalam berikut

Warna hijau merupakan bidang orbit dari bumi kita, abu-abu tebal adalah venus, abu-abu tipis merkurius dan merah adalah mars.
Jikapun iya semua planet yang ada di tatasurya sejajar seperti yang dikatakan “Kesejajaran Alam semesta” maka tidak ada efek nya sama sekali terhadap bumi kita maupun planet-planet lainnya alias biasa-biasa saja. matahari akan terbit dari timur dan tenggelam di barat.
Adakah istilah Kesejajaran Alam semesta dan seperti apa alam semesta itu menurut astronomi?
Sebelum menjawab pertanyaan diatas kita haruslah mengetahui seperti apakah alam semesta itu? Berdasarkan teori bigbang alam semesta ini mengembang sehingga tidak ada yang namanya istilah Kesejajaran alam semesta. Alam semesta atau universe yang sudah dapat dilihat oleh manusia adalah sebagai berikut.
  1. Kita hidup di planet bumi, Planet bumi memiliki bintang yaitu matahari yang membentuk sebuah sistem yang bernama tatasurya. Bintang kita yaitu matahari ternyata tidaklah sendiri melainkan memiliki tetangga sebutlah ia alpha centauri, omega centauri, capella dan castor. Oleh Astronom bintang-bintang tetangga tatasurya ini disebut sebagai Bintang tetangga tatasurya atau “Solar System Neighbour”.
  2. Jauh terbang keatas kita akan menemui bahwa kumpulan bintang tetangga tatasurya ini ternyata berkumpul dan saling bergerak mengelilingi pusat galaksi dan kita akan lihat semua bintang-bintang ini berkumpul menjadi satu dalam sebuah galaksi.
  3. Terbang keatas lagi ternyata galaksi kita tidaklah sendiri melainkan ia memiliki tetangga-tentangga galaksi terdekat yaitu Galaksi kerdil Sagitarius, Galaksi Awan magellan besar(LMC), galaksi awan magellan kecil(SMC) dan galaksi andromeda. Oleh para astronom kumpulan galaksi tetangga galaksi bimasakti dinamakan Grup Galaksi Lokal atau local Galactic Group.
  4. Terbang keatas lagi setelah kita melihat grup galaksi lokal, kita akan temui kembali bahwa grup galaksi lokal ternyata memiliki tetangga juga yang cukup banyak. Jika di analogikan, galaksi bimasakti adalah rumah kita dan ia berada pada sebuah pedesaan(Local galactic group). Teryata setelah kita terbang keatas ada sebuah pedesaan yang cukup ramai juga. Nah oleh para astronom, tetangga local galactig group ini dinamakan Superklaster virgo atau Virgo Supercluster.
  5. Jauh terbang keatas lagi dan semakin keatas, kita akan menemukan pedesaan-pedesaan yang berisi galaksi itu ternyata memiliki tetangga lain lagi yang jauh di ujung sana dan itu tidak hanya satu atau dua melainkan banyak. Nah oleh astronom tetangga dari Virgo SuperCluster ini diberinama Local SuperCluster.
  6. Eits… belum selesai. Kita terbang lagi keatas dan kita akan temukan ternyata Local supercluster ternyata masih memiliki tetangga lain dan masih banyak sekali local supercluster. Oleh para astronom kumpulan local supercluster ini dinamakan Alam semesta atau universe. Nah kini kita tau bahwa alam semesta sangat lah luas dan tidak sejajar seperti yang dikatakan oleh kebohongan publik itu.

“Jadi Bumi akan gelap pada tanggal 23-25 Desember 2012 adalah murni Hoax/ Kebohongan Publik”
 Sumber : Kafe Astronomy

Inilah Bukti Bahwa Neil Amstrong Sungguh Pernah Ke Bulan!


Tahun 1969, pesawat Apollo 11 berhasil membawa dan menjejakkan manusia untuk pertama kalinya di Bulan. Tentu kita semua masih ingat siapa saja awak dari Apollo 11 itu. Nama Niel Amstrong, Buzz Aldrin, dan Michael Collins mungkin merupakan nama-nama yang sudah tidak asing lagi kita dengar. Ketiga orang itulah para astronot yang dikirimkan oleh NASA dalam misi penerbangan manusia pertamakali ke Bulan dengan Apollo 11. Peristiwa ini tentunya menjadi suatu tolak ukur bagi kemajuan IPTEK kita, dan mungkin kedepannya penjelajahan ke Mars maupun planet lainnya dengan mengirimkan manusia pertama kesana bukan menjadi suatu impian lagi.
<p>Your browser does not support iframes.</p>

Namun sayang, setelah lebih dari tiga dekade terlewati pro kontra masih membayangi peristiwa bersejarah itu. Banyak oknum yang belum sepenuhnya mempercayai bahwa NASA benar-benar mendaratkan manusia ke Bulan dikarenakan beberapa sebab, diantaranya penguasaan teknologi yang belum memadai saat itu,dll. Era tahun 1969 merupakan masa dimana perang dingin antara Uni Soviet dan Amerika belum berakhir. Mungkin karena ambisinya untuk memenangkan perang dingin inilah yang membuat pihak Amerika kemudian membuat suatu "kecurangan" dengan sebuah proyek rekayasanya yang mengambil setting pendaratan di bulan tsb. Satu fakta yang mungkin membuat Amerika "geram" adalah kabar keberhasilan Soviet yang telah mengorbitkan Vostok 1-nya bersama Yuri Gagarin, sebagai manusia pertama yang berhasil melakukan perjalanan ruang angkasa.

Tapi, benarkah misi Pendaratan Apollo 11 di bulan itu memang benar-benar dipalsukan oleh NASA dengan membuat filmnya di Studio?


Pada tanggal 15 Februari 2001,
American Fox TV Network menayangkan sebuah program yang disebut Conspiracy Theory : Did We Land on the Moon? (Teori Konspirasi : Apakah Kita Sungguh Mendarat di Bulan?). Mitch Pileggi, seorang aktor dalam film X-Files memandu acara satu jam ini, menyatakan bahwa NASA telah memalsukan seluruh proyek Apollo ke Bulan dengan membuat filnya di Studio. Namun, mitos ini hanya diyakini sedikit orang di Amerika. Berdasarkan jejak pendapat Time pada tahun 1995 dan Gallup pada tahun 1999, yakni hanya sekitar 6% saja orang Amerika yang meragukan bahwa 12 Astronot telah berjalan di bulan. Ke-6% orang-orang yang meragukan hal itulah yang disebut sebagai penganut teori konspirasi. 
Para penganut Teori Konspirasi diluar Amerika mungkin lebih banyak lagi, menurut taksiranku, saat ini lebih banyak orang yang mempercayai mereka mengenai mitos tentang kepalsuan pendaraatan di Bulan yang dilakukan oleh NASA.CMIIW*
 
Para penganut teori konspirasi dan orang yang skeptis tentunya mempunyai banyak bukti akan hal ini. Menurut mereka banyak beberapa hal yang aneh pada foto-foto yang dipublikasikan oleh pihak NASA selama misi ke bulan tsb. Diantaranya foto yang memperlihatkan bendera tampak berkibar, padahal di Bulan tidak ada atmosfer dan angin. Mereka juga menunjukkan bahwa dalam semua foto yang seharusnya memperlihatkan para astronot sedang berada di permukaan Bulan yang hampa udara, mereka tidak melihat obyek gambaran bintang-bintang dilangit yang gelap.

Tapi, saya pribadi justru mempercayai bahwa misi Apollo 11 ke bulan itu bukanlah merupakan suatu kebohongan yang selama ini banyak digembar-gemborkan oleh para Skeptisme maupun penganut teori konspirasi .Mengapa?

Mungkin beberapa penjelasan yang saya uraikan dibawah ini lebih bisa membuka pikiran kita bahwa sebenarnya apa yang selama ini digembar-gemborkan oleh beberapa oknum yang menyatakan bahwa pendaratan Apollo 11 di bulan itu palsu, bisa aku katakan merupakan sebuah tindakan "penyesatan" dan boleh dikatakan "fitnah". Berikut adalah point-point yang sering dipertanyakan di beberapa forum luar menganai berbagai kejanggalan-kejanggalan tsb. Sengaja ditampilkan dalam gaya tanya jawab yang disertakan beberapa gambar untuk lebih mudahkan teman-teman dalam membaca dan mencerna uraian dibawah ini.

X : Penganut Konspirasi
Y : sebagai orang yg mempercayai Apollo 11 benar2 mendarat di Bulan

Point 1. Mana bintangnya?


X : coba lihat pict diatas,mengapa tidak ada bintang pada gambar yang diambil para astronot dari permukaan Bulan. Logikanya tanpa atmosfer otomatis langit Bulan menjadi gelap. Jika demikian tentunya pengamat bisa melihat objek-objek terang seperti bintang.

Y : Penjelasannya sangat sederhana, film dengan kualitas terbaik pun tidak dapat
memperlihatkan secara bersamaan dua objek , yg satu sangat terang (pakaian astronot warna putih yang terkena sinar matahari) dan obyek lain yang redup (bintang). Story Mugrave, seorang astronot yg telah terbang keluar angkasa sebanyak enam kali, mengatakan bahwa ketika ia berada diluar pesawat , dibawah sinar matahari yang terang, ia tidak dapat melihat bintang-binatang. Namun ketika pesawat berada di dalam bayangan bumi dan matanya dapat beradaptasi dengan lingkungan yg lebih gelap, pada saat itulah dia dapat melihat bintang.

Penjelasan lainnya, pada langit Bumi, partikel-partikel atmosfer Bumi akan menghamburkan cahaya matahari pada panjang gelombang biru, sehingga langit siang hari pun tampak biru. Berbeda dengan Bulan, yang hampir dapat dikatakan tidak memiliki atmosfer sehingga langit senantiasa gelap, baik siang maupun malam. Jadi, jika kita berada di Bulan, tentunya bintang akan selalu terlihat. Tetapi kenapa tidak terekam dalam gambar yang diambil Apollo? Dalam foto itu, sebenarnya bintang tersebut ada, namun terlalu redup untuk ditangkap kamera. Kamera dan film yang digunakan oleh para astronot disetel untuk mengambil gambar-gambar kegiatan di Bulan. Exposure timenya diatur sedemikian rupa agar dapat merekam kondisi permukaan Bulan yang terang, bukan untuk mengambil gambar objek-objek lemah pada langit latar belakang.

Point 2. Mengapa bayangnya tidak paralel?



X : Mengapa bayangan astronot dan b agian-bagian peralatan ilmiah di permukaan bulan tidak benar-benar paralel? tidak masuk akal!!

Y : Bayangan itu tidak paralel karena hanya diterangi satu sumber cahaya yg jauh seperti matahari. Namun, hal itu benar jika kamu berada dipermukaan yang rata dan tidak berefek 3 dimensi. Jika kita mecoba memperlihatkan realitas 3 dimensi pada permukaan yg tidak rata di dalam foto dua dimensi yg memiliki kontras, bayangan jatuh ke arah yg sedikit berbeda.

Point 3. Benderanya dapat berkibar?

X : Mengapa bendera bisa berkibar ditempat yang hampa udara seperti bulan. Logikanya,bendera dapat berkibar apabila ada angin, karena hanya udara yg bergeraklah yg dapat mengibarkan bendera.

Y :
1. Tidak ada angin di dalamstudio film kecuali jika kipas angin dihidupkan.
2. Jika ada cukup banyak angin di studio film,sehingga bendera berkibar , angin itu juga pasti menggerakkan debudebu di kaki mereka.
3. Untuk bisa berkibar, bendera tidak selalu membutuhkan angin. Setidaknya di ruang angkasa hal inilah yang terjadi. Pada kondisi di Bulan, bendera dipancangkan bukan hanya pada tiang vertikal, tapi terdapat juga tiang horizontal yang ditambahkan di bagian atas bendera, sehingga bendera tersebut tampak tergantung dan merentang. Selain itu permukaan Bulan yang keras mempersulit pemancangan tiang bendera, sehingga para astronot harus memutar tiang tersebut maju mundur agar bisa ditanamkan di tanah bulan. Akibat gerakan ini, bendera tersebut berkibar, atau yang sebenarnya lebih tepat jika disebut bergetar. Di Bumi kibaran bendera terjadi beberapa detik dan diperlambat oleh udara, tapi kondisi vakum di Bulan menyebabkan gerakan bendera tersebut tidak akan berhenti karena tidak ada gaya dari luar yang menghentikannya.

Sesungguhnya, bendera yg berkibar itu justru membuktikan bahwa para astronot memang berada di Bulan. Bendera itu bergoyang karena baru saja dipasang. Dan terus bergoyang selama beberapa waktu dengan cara yang tidak biasa karena gravitasi Bulan 1/6 gravitasi Bumi, dan karena tidak ada udara di bulan untuk segera menghentikan gerakan bendera.

Point 4. Mana Kawahnya?

X : Pada foto yang lain, tidak tampak adanya lubang bekas semburan roket (kawah) pada lokasi pendaratan. Untuk roket seukuran Apollo seharusnya semburannya dapat menimbulkan lubang yang besar pada permukaan Bulan. Jadi, bagaimana bisa roket mendarat mulus tanpa membekaskan jejak besar?

Y : Untuk melakukan sebuah pendaratan tentu tidak dilakukan dengan kecepatan tinggi tapi dengan kecepatan yang diperlambat. Tidak ada satu orangpun yang memarkirkan mobilnya dengan kecepatan 100 km/jam. Hal yang sama berlaku juga pada Apollo 11. Semburan roket memiliki dorongan 5000 kg, tetapi roket tersebut diperlambat sampai sekitar 1500 kg saat mendekati permukaan. Dengan diameter pipa pengeluaran roket sebesar 54 inci (dari Ensiklopedia Astronautica), dan ukuran roket sekitar 2300 inci persegi, semburan roket hanya menimbulkan tekanan sekitar 0.75 kg /inci persegi. Tekanan sebesar ini tidak akan sampai menimbulkan jejak lubang yang besar.

Hasil foto-foto yang diambil di Bulan juga memperlihatkan adanya bayangan yang kurang gelap. Obyek yang seharusnya gelap karena berada dalam daerah bayangan, tetapi dalam foto dapat jelas terlihat, termasuk tulisan di sisi pesawat. Jiika Matahari merupakan satu-satunya sumber cahaya, dan tidak ada udara yang dapat menghamburkan cahaya, seharusnya bayangan yang terjadi sangat gelap. Sebuah persepsi yang salah. Memang ini bukan di Bumi dan cahaya Matahari tidak dapat dihamburkan dalam kondisi hampa udara. Tapi di Bulan masih ada sumber cahaya lain yang berasal dari Bulan sendiri. Debu di Bulan memiliki sifat yang khas: yaitu memantulkan kembali cahaya ke arah sumber cahaya berasal.

Point 5. Transmisi suara tidak ada jedanya sama sekali?

X : Transmisi suara dari bulan ke bumi kok gak ada jedanya sama sekali, padahal mustinya kira-kira 5 detik, baru samapi ke bumi?

Y : Transmisi audionya sebenarnya ada jedany. Antara suara dari bulan dan konfirmasi dari bumi tidak ada jeda. Itu jelas karena transkrip tersebut dicatat dari bumi. Contohnya pada potongan transkrip berikut :

1.102:41:12 Duke: Eagle, you've got 30 seconds to P64
2.102:41:19 Aldrin: Roger. (Pause)
3.102:41:27 Duke: Eagle, Houston. Coming up 8:30; you're looking great. (Pause)
4.102:41:35 Armstrong: (Garbled) 64.
5.102:41:37 Duke: We copy. (Long Pause)

Coba liat antara line 1 dan 2, ada 7 detik berlalu setelah mission control (Duke) memberikan informasi sampai terdengar konfirmasi dari Aldrin, waktu yang lebih dari cukup untuk gelombang elektromagnetik merambat ke bulan dan kembali lagi ke bumi. (jarak bumi ke bulan sekitar 360 ribu km, kecepatan cahaya sekitar 300 ribu km/s bolak balik cukup sekitar 2,4 detik saja)

Tapi coba perhatikan hanya ada 2 detik berlalu setelah informasi dari Armstrong dan konfirmasi dari mission control waktu yang juga lebih dari cukup untuk gelombang suara merambat dari speaker mission control ke telinga Duke lalu merambat dari mulut Duke ke mic dihadapannya.

Point 6. Masalah sabuk Radiasi Van Allen (Van Allen Belts)

X : Untuk mencapai bulan , astronot harus melewati Sabuk Radiasi Van Allen, yang bisa meghasilkan jumlah radiasi cukup fatal, bagaimana mungkin mereka dapat selamat?

Y : Radiasi adalah hal yang tidak terlalu diperhatikan NASA sebelum penerbangan pertama, namun mereka
memenginvestasikan jumlah yang cukup besar untuk penelitian ini dan menentukan bahwa resikonya minimal. Apollo memerlukan satu jam untuk melewati sabuk radiasi untuk berangkat dan kembali lagi. Total radiasi yang diterima astronot sekitar satu rem. Orang akan mengalami kesakitan pada radiasi 100-200 rem, dan kematian pada radiasi 300+ rem. Jelas dosisnya memiliki rentang yang sangat jauh untuk dianggap beresiko.

Point 7. Tidak akan pernah ada foto yang berhasil diambil?

X : Tidak akan ada foto yang bisa diambil di bulan, sebab film akan meleleh pada suhu 250°F.

Y : Film yang biasa akan segera meleleh jika di ekspos pada suhu 250°F, bagaimanapun film yang digunakan bukan film biasa, dan tidak pernah diekspos pada temperatur sekian. Astronot Apollo menggunakan film tranparansi khusus yang didisain spesifik, di bawah kontrak NASA, untuk lingkungan yang tidak ramah misal di Bulan. Menurut Kodak, film akan mulai melemah pada 200°F, dan tidak akan meleleh sampai pada suhu 500°F. Kamera juga diproteksi didalam casing spesial yang didisain agar tetap dingin. Situasi di Bulan yg hampa udara sangat berbeda dengan misal di dalam oven. Tanpa konveksi dan konduksi, metode yang mungkin untuk transfer panas hanyalah radiasi. Panas radiaktif bisa dialihkan secara efektif dengan membungkus material menggunakan permukaan reflektif, biasanya material putih. Casing dari kamera sama juga seperti seragam astronot,putih.

Sebenarnya,masih banyak lagi pertanyaan-pertanyaan yang bermunculan dari pihak Skeptic , namun karena aku rasa terlalu banyak, maka pertanyaan2 yang paling sering ditanyakanlah yang ku ulas.

Namun, ada suatu bukti yang tidak dapat dibantah bahwa manusia benar-benar pernah pergi ke Bulan, yaitu batu-batu bulan yang dibawa dengan berat total 382 Kg, yg telah diperiksa oleh ratusan ahli geologi dari seluruh dunia.




Batuan Bulan yang berhasil dibawa para awak Apollo Batuan-batuan ini memiliki karakteristik yang sama dengan batuan bulan yg ditemukan di pesawat ruang angkasa Rusia tanpa awak. Yang perlu diketahui bahwa batuan bulan itu sangat aneh,diantaranya :

1. Karena hanya mengandung sedikit air
2. (lihat gambar ke-2 batu bulan ) Karena sering terkena sinar kosmis selama jutaan tahun di permukaan bulan yang hampa udara,maka terbentuklah lubang-lubang aneh dipermukaannya.
3. Batuan bulan sangat berbeda dengan batuan bumi, dan tidak dapat dipalsukan denganteknologi terbaru apapun. Untuk menghasilkan batuan bulan palsu , setidaknya kita harus melumatkannya dengan tekanan 1.000 atmosfer dan memanasinya dengan suhu 1.100 derajat celcius selama beberapa tahun. Kemudian, selagi tetap berada dalam tekanan, dinginkan perlahan selama beberapa tahun lagi. Betapa konyolnya NASA jika harus
bersusah payah melakukan hal ini semua, betul tidak tidak?

Seharusnya, kita semua tidak sepantasnya
terpengaruh pada berita yg hanya secara sepihak menyoroti perjalanan Neil Armstrong dan Buzz Aldrin dalam menjadi misi pertama ke bulan.

Padahal ada beberapa misi yg sudah berhasil mendarat di bulan setelah Armostrong dan Aldrin.
Orang terakhir yg berjalan ke bulan adalah Gene Cernan yg melakukan misi bersama astronot Jack Schmitt, 7 - 19 Desember 1972.

Cara Menentukan Massa & Jarak Bintang !


Bintang ganda visual. Kredit: scienceblogs
Singkatnya, massa dapat ditentukan mempergunakan hukum-hukum dasar Newton & Kepler. Sedangkan jarak dari magnitudonya. Intinya adalah dari cahaya yang terpancar dari sumber ke pengamat.  Dan alat yang digunakan bukanlah sebuah alat ukur yang bisa langsung mengukur kuantitas massa dan jarak. Untuk bisa menentukan massa dan jarak dibutuhkan  kolektor berupa teleskop dan detektor yakni ccd kamera & analisator (filter)
Massa Bintang
Pada dasarnya tidak ada alat yang bisa digunakan untuk secara langsung mengukur massa sebuah obyek di langit.  Massa suatu benda langit hanya dapat ditentukan dari pengaruh gravitasinya pada benda langit lainnya, yaitu dari gerak orbitnya. Contohnya adalah massa Matahari yang dapat ditentukan dengan mengamati gerak orbit planet. Dan untuk penentuan massa bintang, secara umum hanya dapat ditentukan bila bintang itu merupakan komponen bintang ganda.
Untuk menentukan massa bintang, Hukum Kepler ketiga dapat diterapkan dalam gerak kedua bintang di bintang ganda.
Berdasarkan Hukum Kepler ketiga, kuadrat kala edar obyek yang mengorbit Matahari sebanding dengan pangkat tiga jarak rata-rata si obyek dari matahari. Dan hubungan Hukum Gravitasi Newton dan Hukum Kepler ketiga bisa memberikan massa total kedua bintang dalam sistem bintang ganda dalam hubungan :
(m1 + m2) =  (d1 + d2)3 /P2
dengan (d1 + d2) = R

P = periode orbit ; m1 dan m2 = massa kedua bintang ; R = total jarak separasi antara kedua bintang dengan pusat massa.
Hubungan tersebut dapat digunakan untuk mengetahui massa komponen bintang ganda itu.
Bagaimana dengan bintang tunggal?
Dengan diketahuinya sistem keplanetan di bintang-bintang lain, penerapan Hukum Kepler ketiga dapat digunakan untuk mengetahui massa bintang induk sistem tersebut.
Untuk bintang tunggal, diagram Hertsprung Russel juga bisa digunakan sebagai faktor penentu massa. Untuk bintang di Deret Utama, sifat-sifatnya memiliki keterkaitan yang erat dengan massanya. Massa bintang menentukan berapa lama ia akan berada di deret utama. Semakin besar massa sebuah bintang, maka semakin boros pula ia menguras hidrogennya sehingga umurnya akan lebih singkat. Dengan mengetahui luminositas atau temperatur sebuah bintang maka kita bisa menentukan massanya. Di deret utama, luminositas sebuah bintang sebanding dengan pangkat 3,5 massa sebuah bintang.

Pada tahun 2004, untuk pertama kalinya bisa menentukan massa sebuah bintang secara langsung menggunakan metode lensa mikro gravitasi. Dengan teknik ini para astronom berhasil menentukan massa bintang dengan melihat efek yang ditimbulkan bintang pada berkas cahaya yang melewatinya.
Jarak Bintang
Metode Paralaks

Paralaks bintang merupakan metode untuk mengukur jarak bintang
Coba acungkan jarimu di depan mata dan pejamkan mata kirimu. Lihatlah posisi jari terhadap obyek latar belakang yang jauh. Kemudian gantilah memejamkan mata dan tutuplah mata kananmu. Sekarang lihat lagi posisi jarimu terhadap obyek latar belakang yang sama tadi. Sekarang jarimu akan tampak berpindah bukan? Misalnya dari kiri obyek ke kanan obyek. Pergeseran inilah yang disebut paralaks atau beda lihat dan sudut pergeserannya disebut sudut paralaks.
Di dalam astronomi, metode inilah yang digunakan dalam penentuan jarak. Paralaks merupakan metode yang digunakan dengan melihat pada pergeseran dua titik tetap relatif satu terhadap yang lain dilihat dari sudut pandang pengamat.
Kita tahu kalau Bumi mengitari Matahari dengan periode orbit 365,25 hari dan akibat gerak edar Bumi, bintang yang dekat akan tampak bergeser letaknya dari bintang yang jauh. Bintang tersebut seolah menempuh lintasan berbentuk elips relatif terhadap bintang – bintang latar belakang yang jauh. Gerak yang disebut gerak paralaktik ini merupakan cerminan gerak Bumi mengitari Matahari.  Sudut yang dibentuk oleh bumi dan matahari ke bintang inilah yang diebut paralaks bintang. Semakin jauh letak bintang, lintasan ellipsnya makin kecil, paralaksnya juga makin kecil. Metode ini yang disebut Paralaks Trigonometri
Lihat gambar, andaikan matahari adalah jarak Bumi-Matahari, d adalah jarak Matahari – bintang, dan p adalah sudut parallaks, didapatkan formula paralaks:
d (parsec) = 1 / p (detik busur)
Metode paralaks trigonometri hanya bisa digunakan untuk mendapatkan jarak bintang-bintang terdekat yakni sampai 100 parsec.
Magnitudo Mutlak Bintang
Cara lain untuk mengukur jarak bintang adalah dengan mengukur terang suatu bintang dan selanjutnya menaksir kuat cahaya sebenarnya bintang itu. Dalam pengamatan, terang suatu bintang diukur dalam satuan magnitudo. Magnitudo merupakan ukuran terang bintang yang kita lihat atau terang semu (magnitudo semu) bintang. Magnitudo juga merupakan besaran lain untuk menyatakan fluks pancaran yang kita terima di Bumi per cm2 per detik (E).
Sebuah bintang yang kita lihat terang belum tentu benar-benar terang dalam hal kuat cahaya sebenarnya. Bisa saja ia tampak “lebih terang” karena jaraknya yang dekat. Contohnya lampu mobil yang berada jauh akan tampak lebih redup tapi begitu mendekat cahayanya jadi lebih terang.
Karena energi yang dipancarkan sumber pada selang waktu satu detik akan melewati pemrukaan bola itu dalam waktu satu detik juga maka:
E = L / (4π d2)
Fluks pancaran yang kita terima di Bumi itu berbanding terbalik dengan kuadrat jarak sumber cahaya. Artinya sumber cahaya yang terletak dua kali lebih jauh akan tampak empat kali lebih lemah cahayanya. Jika luminositas dapat diketahui, dan E bisa diukur maka jarak bintang dapat diketahui.
Sekarang, andaikan semua bintang berjarak sama dari kita, magnitudo semu dapat dianggap sebagai ukuran terang sebenarnya bintang. Bintang yang luminositasnya besar akan memiliki magnitudi kecil sedangkan bintang dengan luminositas kecil akan memiliki magnitudo yang besar. Nah untuk menentukan kuat cahaya sebenarnya sebuah bintang, maka didefinisikan besaran magnitudo mutlak yaitu magnitudo bintang andaikan bintang diamati pada jarak yang sama yaitu 10 parsec.
Jika ada dua bintang dengan magnitudo mutlak M1 dan M2 maka berlaku persamaan Pogson :
M1 – M2 = -2,5 log (L1/L2)
Kredit: Swinburne University of Technology
Modulus Jarak
Jika jarak bintang dalam parsec adalah d dan fluks pancaran E dan magnitudo semu bintang m dan kita andaikan si bintang diamati dari jarak 10 parsec. Dan jika diandaikan fluks pancaran bintang E’, maka menurut persamaan Pogson:   m – M =  2,5 log (E/E’)  dan luminositas bintang L, maka : m – M = 2,5 log [(L/(4π d2)) / (L /(4π 102))]
Maka, selisih magnitudo semu dan magnitudo mutlak akan memberikan harga jarak bintang dari pengamat setelah dikoreksi terhadap serapan antar bintang.
m – M  = – 5 + 5 log d
Besaran m – M tersebut disebut modulus jarak.
Cepheid Sebagai Lilin Penentu Jarak
Tahun 1784, John Goodricke menemukan kalau bintang Cepheid berubah cahayanya secara berkala dan diduga merupakan komponen bintang ganda. Tapi pada tahun 1914 Shapley menemukan kalau bintang ini berubah-ubah cahayanya bukan karena Cepheid merupakan bintang ganda gerhana melainkan bintang ini berdenyut.
Pada bintang Cepheid juga ditemukan hubungan antara luminositas dan periode perubahan cahaya. Hubungan ini menyatakan semakin terang suatu Cepheid, makin besar periodenya. Untuk mengetahui jarak variabel Cepheid di galaksi lain, diambil hubungan titik nol yakni titik pada periode dimana magnitudo mutlaknya nol. Untuk mendapatkan hubungan titik nol, dapat ditentukan dengan membandingkannya dengan Cepheid dalam Galaksi kita pada gugus bintang yang jaraknya sudah diketahui.
Kredit : CSIRO
Dengan mengandaikan Cepheid yang diamati memiliki sifat sama dengan Cepheid di Galaksi kita, maka periode perubahan cahaya dan luminositasnya dianggap sama juga. Karena luminositas dianggap sama maka Magnitudo mutlak bisa diketahui dari hubungan : M – Mο = -2,5 log (L/Lο)
Maka modulus jarak bisa diketahui dengan m dari pengamatan pada bintang variabel Cepheid galaksi lain yang diamati, dan jarak pun bisa diketahui : m – M  = – 5 + 5 log d
____

- Copyright © 2013 Otaku Astronomy - Hatsune Miku - Powered by Blogger - Designed by Johanes Djogan -